Forum PNBB

Forum Diskusi Komunitas PNBB
kupu

kupu

Oleh Haidi Yan di PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Hari Senin itu adalah minggu kedua Frans sebagai murid baru kelas lima di sekolah. Kepindahannya ke sekolah itu karena mengikuti orang tuanya bertugas sebagai Polisi di ibukota kecamatan.

Penampilan Frans memang sedikit berbeda dari anak-anak di desa tersebut, maklum ia berasal dari sekolah di kota. Sepatu bersih dan terlihat bagus, tas tampaknya mahal dari bahan berkualitas.

Sudah beberapa teman dikenalnya, tapi tidak semua teman di kelas lima tersebut menyukai Frans, karena penampilan, sikap dan gaya Frans.

~o~

Jam istirahat hari itu, Frans tidak keluar, tapi ia bercerita dengan teman-teman barunya di kelas. Frans banyak bahan cerita tentang sekolahnya di kota. Ia sangat bangga terhadap sekolahnya itu.

“Apakah ada Perpustakaan, di sini?” tanya Frans kepada Anwar.

“Ada! Di ruang guru.” jawab Anwar.

“Di sekolahku dulu juga ada, tapi tidak jadi satu dengan ruang guru.” kata Frans.

“Ya! Itu di kota, di sini kan desa.” sahut Anwar.

“Ada Labolaturium gak?” tanya Frans lagi.

“Belum ada.” sahut Yono.

“Di sekolahku dulu ada.” kata Frans.

Emang apa yang dikerjakan di labolaturium?” tanya Hasan.

“Ya, banyak yang dikerjakan di sana.” sahut Frans.

“Seperti apa contohnya?” tanya Anwar.

“Kita bisa meneliti tumbuh-tumbuhan, atau hewan.” jawab Frans.

“Oh, seperti di TV itu.” sahut Yono.

“Ya, seperti di TV itu!” sahut Frans.

“Emang kamu pernah neliti apa?” tanya Hasan.

Frans terdiam sejenak, seolah ia mengingat-ingat kembali apa yang telah ditelitinya di labolaturium sekolah waktu di kota.

Iya,  aku ingat, waktu itu kami meneliti kupu-kupu.” kata Frans, meyakinkan teman-temannya.

Hasan, Yono dan Anwar mendengarkan cerita Frans, sementara Hadi, sejak semula duduk di kursi belakang, hanya diam mendengarkan cerita teman-temannya.

Frans mulai serius menceritakan penelitian kupu-kupu yang pernah dilakukannya di labolaturium sekolah.

“Waktu itu kami menangkap kupu-kupu dewasa dengan jaring, satu ekor betina dan satu ekor jantan. Setelah ditangkap kemudian dimasukan ke kandang kawat, agar kupu-kupu tersebut saling mengenal.” cerita Frans serius.

“Terus!” kata Anwar.

“Dua hari kemudian, kupu-kupu itu kami masukan ke sebuah tabung kaca besar, yang steril dan hampa udara.” lanjut Frans.

Semua temannya serius dan bersemangat sekali mendengarkan cerita Frans, karena Frans bercerita sambil berdiri dan memperagakan dengan gerak tangannya.

“Setiap hari kami mencatat perkembangan kupu-kupu tersebut.” cerita Frans, semakin bersemangat.

“Terus apa yang terjadi?” tanya Anwar.

“Setelah seminggu, kami mencatat terus gerak-gerik kupu-kupu tersebut. Pada hari kesepuluh tampaknya kupu-kupu betina sudah semakin besar.” Frans semakin serius menceritakan pengalamannya.

“Kemudian apa yang terjadi dengan kupu-kupu itu?” tanya Yono.

“Pada hari kelima belas, kupu-kupu betina telah melahirkan banyak sekali anak kupu-kupu kecil berterbangan di dalam tabung kaca di labolaturium.” cerita Frans.

Teman-temannya sangat tertarik sekali mendengarkan cerita Frans.

“Terus diapakan anak kupu-kupu itu?” tanya Yono.

“Kemudian kami melepasnya di kebun belakang sekolah, agar kupu-kupu tersebut hidup di alam bebas.” lanjut Frans

~o~

Hadi yang dari tadi sangat serius mendengarkan cerita Frans dan tidak mengeluarkan satu kata pun, kini berdiri dan menghampiri Frans.

“Maaf Frans, bukan tidak percaya ceritamu, tapi rasanya cerita itu gak cocok.” Hadi berbicara lembut dan sopan.

“Maksud kamu apa!” tanya Frans.

Memang Hadi di kenal anak yang pendiam dan tidak banyak bicara,  bahkan sering diolok teman-temannya sebagai kutu buku, karena sering kali pada jam istirahat ia duduk membaca buku di perpustakaan atau meminjam buku perpustakaan yang ada di ruang guru tersebut.

“Tidak! Tidak ada maksud apa-apa, cuma penjelasan kamu itu kurang sedikit.” sahut Hadi.

“Kurang bagaimana maksudnya?” tanya Frans kembali.

“Begini, seperti kita tahu, kita perlu bernapas, jika kupu-kupu itu dimasukan ke tabung kaca hampa udara, pasti mati, iya kan?” kata Hadi, pelan setengah berbisik.

“Ya, benar sekali.” sahut Arman.

“Terus, kupu-kupu itu tidak beranak seperti ceritamu, kupu-kupu itu bertelur, telur kupu-kupu kemudian menjadi ulat dan ulat menjadi kepompong baru menjadi kupu-kupu.” Hadi sambil tersenyum mengakhiri ceritanya.

Teman-teman lain juga turut mendengarkan cerita Hadi, sambil manggut-mangut tanda mengerti.

“Oh, jadi kamu bohong ya?” kata Yono, tampak kesal.

“Sudah, sudah lain kali cerita yang benar aja.” sahut Arman.

Sebenarnya Frans sangat malu terhadap teman-teman barunya, karena bualannya terbongkar oleh Hadi. Sejak saat itu, ia tidak lagi membanggakan sekolahnya di kota dahulu, mereka menjadi teman-teman yang akrab.

 

[Haidi : 11.03.2012]

 

************

Gambar diambil dari sini

Oleh: Risma Purnama Aruan

 Hambatan menulis itu biasanya rasa malas! Jika rasa malas ini sudah mencogok biasanya saya akan menjadi ratu alasan, ga punya waktulah, lagi sibuklah, pc problem lah, lagi ada masalah hatilah alias lagi ga mood, lagi ga ada idelah,apa saja bisa jadi alasan! Pernah saya hampir dua minggu tak menulis apa apa, boro boro bikin notes yang dipublish, bikin catatan dinding saja tidak, apalagi kasih ide atau komentar. Ughhhh...si Ratu Alasan dan si Raja Malas saat itu sedang bersanding di pelaminan, tak bisa di ganggu, hehehe... (lebih…)

Oleh: Rahma Damayanty Rivai

“Konon kabar, kata seorang paranormal, Jembatan Kutai Kertanegara ambruk karena tiada tumbal kepala kerbau. Nah, mungkin tulisan-tulisan anda mengalami hambatan, karena tak menyediakan tumbal sekarung coklat…"(kata paratidaknormal)

Pertama. Apakah aku pantas menulis tentang ini?

Sedangkan banyak draft-draft tulisanku terbengkalai. Tak berjudul. Tak beralur yang indah. Tak bertenaga. Tak ada akhir yang disiapkan. Tak ada tokoh yang sekuat Ikal dan Arai di Laskar Pelangi.

Apa yang ku miliki untuk menulis? Hanya segunung cita-cita. Setumpuk ide, sejumput motivasi dan waktu tidur siang yang tidak produktif.

Kedua. Tapi, karena menurut guru kesayanganku, Bapak Ersis Warmansyah Abbas: Menulis itu berbagi, jangan pelit menulis, maka ku tuliskan hal-hal ini.

Setiap pekerjaan besar, butuh suatu pengorbanan. Namun dalam hal menulis, ku rasa tak ada pengorbanan. Karena menulis adalah salah satu bentuk terapi jiwa. Saya pernah membaca, banyak jiwa yang terpulihkan karena menulis.

Yang perlu anda sediakan adalah menyediakan tumbal atau sajen SEKARUNG COKLAT. Atau SEKILO GETUK GORENG. Atau SEMANGKUK BUAH-BUAHAN. Atau SEGALON KOPI LATTE.

Atau ……..dan mulailah lakukan ini: Tinggalkan pekerjaan menulis. Berjalan-jalanlah. Temui banyak orang. Nikmati kota. Nikmati desa. Nikmati pagi. Nikmati malam.

Memasak. Coba resep-resep baru. Membaca banyak buku. Ada banyak buku panduan menulis termasuk didalamnya soal mengatasi hambatan menulis, seperti Buku-buku Pak Ersis Warmansyah Abbas (jumlahnya banyak sekali), Buku Arswendo Atmowiloto, Buku Gola Gong, atau yang paling mengena Stephen King on Writing. Buku Bu Naning Pranoto tentang Creative Writing.

Memberanikan diri mengirim surat pada para penulis terkenal. Luar biasa, mereka mau meluangkan waktu untukmu dan memberi saran-saran yang eksklusif Membaca Novel yang paling disukai. Novel klasik ok. Novel science fiction ok. Chicklit boleh juga (asal tak cabul). Baru-baru ini, saya membaca buku, “Diary Si Bocah Tengil” Jeff kinney. Asli lucu, asyik, dan menyegarkan. Menonton banyak film.

Ketiga. Nah, setelah melakukan semua hal ini, mulailah menulis lagi. Jika dalam proses ini tumbal SEKARUNG COKLAT itu tak habis, kau tahu kemana akan dikirimkan. HUBUNGI AKU.

********
Hatchery of words, Sunday November 27, 2011
Please, jangan habiskan coklatnya.Hubungi aku.

Oleh : Hesti Setiarini

 Hari Minggu ini genap dua bulan sudah Chieko pergi. Sudah bulan Juni sekarang. Bulan yang sering diwarnai derai hujan, sebelum musim panas menjelang.Terkadang angin bertiup kencang tak bersahabat.

Masih jelas membekas dalam ingatan Hiroaki saat istri tercintanya itu meregang nyawa, tepat sehari sebelum hari pernikahan mereka yang ke duapuluhtujuh. Bunga sakura kala itu masih menguncup, hanya menunggu beberapa hari saja sebelum bersemi indah. (lebih…)

Oleh: Lovalyka Maudy Chyntia

 

Di depan meja kasir, aku merogoh dompet warna merahku. Memberikan beberapa lembar lima puluhan ribu untuk pembayaran buku-buku yang baru saja kubeli. Setelah menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari toko buku itu.
Di luar ternyata hujan deras. Biasanya kalau sedang pergi belanja begini, aku selalu ditemani Thomas, pacarku. Tapi kali ini, Thomas sedang ada acara di gereja. Sehingga aku pergi tanpa dia. Lagipula ini hari Sabtu, jadwalku untuk pulang ke rumah ibu. maklum, anak kost. (lebih…)

Dapatkan pemberitahuan artikel & berita-berita terbaru dari PNBB melalui email anda.
© 2020 PNBB - Allright Reserved - Site Credit
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram