Forum PNBB

Forum Diskusi Komunitas PNBB
Oleh Heri Cahyo di PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

“Mi, minta uang …” kata Habib merajuk ibunya

“Lha, tadi kan sudah toh pas berangkat sekolah...” tukas ibunya sambil cemberut.

 

“Ya, sudah habis. Tadi khan buat sangu sekolah, sekarang aku pengen beli ers krim..” Habib bergeming, apalagi suara sirine dari sepeda penjual  es krim di depan rumah seolah-olah menghipnotis melalui telinganya.

 

“Tuku-o, tuku-o, tuku-o….”  itu adalah suara sirine penjual es krim yang diplesetkan yang artinya, “Beli-lah, beli-lah.

 

“Ayo tah, Mi... keburu pergi loh orangnya..” Habib semakin memelas dan matanya sudah mulai basah.

 

“Ih… anak ini, masih kecil sudah suka njanjan…” gerutu ibunya.

 

“Pokoknya nek, nggak dikasih aku nggak ngaji,! Habib mulai mengancam.

 

“Ih, anak ini….!”  Ibunya sebal.

 

“Assalamualaikum…..” terdengar suara wanita dari balik pintu.

 

“Tuh, Bib bukakan pintunya dulu, Umi mau matikan kompornya…!”

 

“Tapi aku minta uangnya loh kalo habis bukakan pintu….” Habib masih berdiri di tempatnya.

 

“Assalamualaikum….” Sekali lagi suara dari luar pintu terdengar.

 

“Walaikum salam….” Ibunya menjawab sambil mengeraskan suaranya.

 

“Bib, bukakan pintu sana… ini gosong nanti…!”

 

“Pokoknya aku dikasih uangnya loh…”

 

“Ya…ya.. sana… suru masuk…!”

 

Habib segera bergegas membuka pintu.

 

“Umminya ada Mas?”  tanya seorang wanita setengah baya

 

“Ada di dapur, masuk dulu ….!” kata Habib mempersilahkan tamunya,

 

“Mi… Bu Karno….!” Seru habib sambil berlari ke dapur.

 

Segera ibunya bergegas ke ruang tamu, “Oh, Bu Karno, monggo pinarak Bu…” begitu ibunya Habib mempersilahkan tamunya untuk duduk.

 

Sejenak kemudian mereka berbincang-bincang tentang acara pengajian yang akan di gelar ibu-ibu RT di komplek perumahan.

 

“Mi, uang…!” begitu Habib mendekat ibunya.

 

Ibunya melotot jengkel, karena tidak ingin berdebat dengan anaknya yang masih kelas dua SD  itu di depan tamu, maka dia memberikan uang dua ribu dari saku bajunya.

 

************************

 

“Kiri-kiri.. ya, mundur dikit… pelan..pelan.. yak.. masuk..!” begitu teriak seorang anak kecil member aba-aba ke pada seorang pengemudi mobil yang hendak keluar dari parkiran. Begitu mobilnya sudah siap meneruskan perjalanan sang sopir mengulurkan sebuah lembaran dua ribuan kepada anak tadi. Kemudian bocah tadi kembali ke duduk di bangku kayu di ujung tempat parkir.

 

“Ayo Bib, kamu turun, kita parkir di sini saja..!”

 

Sang bocah menghampiri ibunya Habib, “Jangan di kunci setir ya bu, ini karcisnya..” kata bocah tadi.

 

“Lho Faisol..” seru Habib kepada anak yang ada di depannya.

 

“Eh Habib, mau belanja Bib?” Tanya Faisol

 

“Iya, ini ikut Ummi, beli susu..!”

 

“Faisol temen Habib?” Tanya ibunya

 

“Iya, Bu..!”

 

“Emang kamu jaga di sini?” Tanya Habib.

 

“Iya, tiap pulang sekolah bantu Bapak jaga di sini, tadi Bapak masih, sholat..”

 

“Ooo….”

 

“Yuk, Bib, kita belanja dulu… Faisol, kami belanja dulu ya..”

 

“Ya, Bu…”

 

Setelah hamper satu jam, Habib dan Ibunya berkeliling pasar untuk belanja, mereke kembali ke tempat parker motor.  Meski sudah sore, udara masih terasa panas sekali. Mereka menuju motor matic merah yang joknya ditutup kardus bekas minuman air mineral.  Begitu melihat Habib dan Ibunya, Faisol yang sedang makan nasi bungkus segera berlari menuju motor yang di parkir, dengan cekatan dia mengambil kardus penutup jok.

 

“Sudah selesai Bib?”

 

“He-eh, kamu baru makan ya.. tuh ada nasinya di pipimu, hehhe..” kata Habib sambil menunjuk pipi Faisol.

 

“Iya… tadi belum sempat makan.. nunggu Bapak… !” kata Faisol sambil mengusap pipinya.

 

“Ini, uang parkirnya…” kata Ibunya Habib menyerahkan selembar uang sepuluh ribuaan.

 

“Nggak ada uang kecil Bu? Cuman seribu kok..” kata Faisol

 

“Kembaliannya untuk Faisol  saja ya…!”

 

Sejenak Faisol melongo, sementara Habib sudah naik dibelakang di atas jok dibelakang ibunya..

 

“Iya..iya.. terimakasih Bu,…”

 

“Kami pulang dulu ya Sol, Assalamualaikum…!” kata Ibunya Habib sambil menyalakan mesin dan menjalankan motornya meninggalkan tempat parkir.

 

“Walaikum salam…. Hati-hati ya Bu…!”  seru Faisol.

 

 

 

Sesampainya di rumah.

 

“Faisol temen sekelasmu Bib?”

 

“Iya, Mi, anaknya pandai… dan baik..!”

 

“Gimana, kalo Habib jadi Faisol?”

 

Sejenak Habib kebingungan mendapatkan pertanyaan ibunya.

 

“Aku disuruh jadi tukang parkir? Gitu tah Mi?”

 

Ibunya mengangguk.

 

“Emmmm…  mmmmm…mm…”

 

“Habib, coba lihat Faisol, untuk makan siang saja, dia masih saja harus jaga parkir dulu, gantian sama Bapaknya. Kira-kira kuat nggak, kamu seperti itu?”

 

Habib cuma menggeleng.

 

“Faisol di sekolah suka jajan nggak? Berapa sangunya?”

 

Habib memandangi wajah ibunya.

 

“Faisol suka jajan? Uang sakunya banyak?” ibunya mengulangi

 

Habib cuman menggeleng.

 

“Kira-kira, kalo pas jaga parkir, Faisol minta uang jajan buat beli es krim atau makanan lain dikasih nggak sama Bapaknya?”

 

Habib Cuma melongo.

 

“Nah, mulai sekarang Habib harus belajar untuk tidak banyak jajan. Lebih baik uangnya ditabung.. begitu?”

 

Habib Cuma mengangguk.

 

 

********************

 

Lawang, 11 Maret 2012

 

Gambar di ambil dari sini

kupu

kupu

Oleh Haidi Yan di PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Hari Senin itu adalah minggu kedua Frans sebagai murid baru kelas lima di sekolah. Kepindahannya ke sekolah itu karena mengikuti orang tuanya bertugas sebagai Polisi di ibukota kecamatan.

Penampilan Frans memang sedikit berbeda dari anak-anak di desa tersebut, maklum ia berasal dari sekolah di kota. Sepatu bersih dan terlihat bagus, tas tampaknya mahal dari bahan berkualitas.

Sudah beberapa teman dikenalnya, tapi tidak semua teman di kelas lima tersebut menyukai Frans, karena penampilan, sikap dan gaya Frans.

~o~

Jam istirahat hari itu, Frans tidak keluar, tapi ia bercerita dengan teman-teman barunya di kelas. Frans banyak bahan cerita tentang sekolahnya di kota. Ia sangat bangga terhadap sekolahnya itu.

“Apakah ada Perpustakaan, di sini?” tanya Frans kepada Anwar.

“Ada! Di ruang guru.” jawab Anwar.

“Di sekolahku dulu juga ada, tapi tidak jadi satu dengan ruang guru.” kata Frans.

“Ya! Itu di kota, di sini kan desa.” sahut Anwar.

“Ada Labolaturium gak?” tanya Frans lagi.

“Belum ada.” sahut Yono.

“Di sekolahku dulu ada.” kata Frans.

Emang apa yang dikerjakan di labolaturium?” tanya Hasan.

“Ya, banyak yang dikerjakan di sana.” sahut Frans.

“Seperti apa contohnya?” tanya Anwar.

“Kita bisa meneliti tumbuh-tumbuhan, atau hewan.” jawab Frans.

“Oh, seperti di TV itu.” sahut Yono.

“Ya, seperti di TV itu!” sahut Frans.

“Emang kamu pernah neliti apa?” tanya Hasan.

Frans terdiam sejenak, seolah ia mengingat-ingat kembali apa yang telah ditelitinya di labolaturium sekolah waktu di kota.

Iya,  aku ingat, waktu itu kami meneliti kupu-kupu.” kata Frans, meyakinkan teman-temannya.

Hasan, Yono dan Anwar mendengarkan cerita Frans, sementara Hadi, sejak semula duduk di kursi belakang, hanya diam mendengarkan cerita teman-temannya.

Frans mulai serius menceritakan penelitian kupu-kupu yang pernah dilakukannya di labolaturium sekolah.

“Waktu itu kami menangkap kupu-kupu dewasa dengan jaring, satu ekor betina dan satu ekor jantan. Setelah ditangkap kemudian dimasukan ke kandang kawat, agar kupu-kupu tersebut saling mengenal.” cerita Frans serius.

“Terus!” kata Anwar.

“Dua hari kemudian, kupu-kupu itu kami masukan ke sebuah tabung kaca besar, yang steril dan hampa udara.” lanjut Frans.

Semua temannya serius dan bersemangat sekali mendengarkan cerita Frans, karena Frans bercerita sambil berdiri dan memperagakan dengan gerak tangannya.

“Setiap hari kami mencatat perkembangan kupu-kupu tersebut.” cerita Frans, semakin bersemangat.

“Terus apa yang terjadi?” tanya Anwar.

“Setelah seminggu, kami mencatat terus gerak-gerik kupu-kupu tersebut. Pada hari kesepuluh tampaknya kupu-kupu betina sudah semakin besar.” Frans semakin serius menceritakan pengalamannya.

“Kemudian apa yang terjadi dengan kupu-kupu itu?” tanya Yono.

“Pada hari kelima belas, kupu-kupu betina telah melahirkan banyak sekali anak kupu-kupu kecil berterbangan di dalam tabung kaca di labolaturium.” cerita Frans.

Teman-temannya sangat tertarik sekali mendengarkan cerita Frans.

“Terus diapakan anak kupu-kupu itu?” tanya Yono.

“Kemudian kami melepasnya di kebun belakang sekolah, agar kupu-kupu tersebut hidup di alam bebas.” lanjut Frans

~o~

Hadi yang dari tadi sangat serius mendengarkan cerita Frans dan tidak mengeluarkan satu kata pun, kini berdiri dan menghampiri Frans.

“Maaf Frans, bukan tidak percaya ceritamu, tapi rasanya cerita itu gak cocok.” Hadi berbicara lembut dan sopan.

“Maksud kamu apa!” tanya Frans.

Memang Hadi di kenal anak yang pendiam dan tidak banyak bicara,  bahkan sering diolok teman-temannya sebagai kutu buku, karena sering kali pada jam istirahat ia duduk membaca buku di perpustakaan atau meminjam buku perpustakaan yang ada di ruang guru tersebut.

“Tidak! Tidak ada maksud apa-apa, cuma penjelasan kamu itu kurang sedikit.” sahut Hadi.

“Kurang bagaimana maksudnya?” tanya Frans kembali.

“Begini, seperti kita tahu, kita perlu bernapas, jika kupu-kupu itu dimasukan ke tabung kaca hampa udara, pasti mati, iya kan?” kata Hadi, pelan setengah berbisik.

“Ya, benar sekali.” sahut Arman.

“Terus, kupu-kupu itu tidak beranak seperti ceritamu, kupu-kupu itu bertelur, telur kupu-kupu kemudian menjadi ulat dan ulat menjadi kepompong baru menjadi kupu-kupu.” Hadi sambil tersenyum mengakhiri ceritanya.

Teman-teman lain juga turut mendengarkan cerita Hadi, sambil manggut-mangut tanda mengerti.

“Oh, jadi kamu bohong ya?” kata Yono, tampak kesal.

“Sudah, sudah lain kali cerita yang benar aja.” sahut Arman.

Sebenarnya Frans sangat malu terhadap teman-teman barunya, karena bualannya terbongkar oleh Hadi. Sejak saat itu, ia tidak lagi membanggakan sekolahnya di kota dahulu, mereka menjadi teman-teman yang akrab.

 

[Haidi : 11.03.2012]

 

************

Gambar diambil dari sini

Oleh Achoey El Haris di PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng
tangis

tangis

Sebelum pulang, semua anak mengantri untuk menyalami Ustadz Haris, tapi tidak dengan Afika, Afika memilih tetap tidak beranjak dari tempat duduknya, wajahnya disembunyikan dibalik buku catatannya yang tampak terbuka. Merasa antrian salaman dari anak-anak dah habis, sang Ustadz pun mendekati Afika, bukan bermaksud menawarkan Oreo tentunya.

 

"Nanda Afika, kenapa kau tak segera pulang?" Ustadz Haris bertanya. Yang ditanya tak bergeming. Sang ustadz pun heran lalu melangkahkan kakinya untuk dapat lebih dekat. Diintipnya wajah Afika yang terhalang buku catatan. Ada tampak air mata mengalir membasahi pipinya. Sang ustadz pun kembali bertanya pada Afika, dengan intonasi yang jauh lebih lembut.

 

"Afika sayang, kenapa kau menangis? Ceritakanlah pada Bapak!"

 

"Pak Ustadz, bolehkah Afika tinggal di rumah Pak Ustadz?" Afika bertanya.

 

"Lho kenapa. Setahu Bapak, ayah dan ibumu sanagat sayang dan memanjakanmu. Kenapa kau malah ingin tinggal di rumah kumuh milik bapak?" Ustadz Haris keheranan.

 

"Tidak Pak Ustadz, ayah dan ibu tidak sayang sama Afika. Buktinya ayah telah tega memberi makan dan menghidupi Afika dari uang haram."

 

"Lho dari mana Afika bisa menyimpulkan hal itu? Jangan berburuk sangka, apalagi pada orang tua sendiri!" Ustadz Haris mencoba mengingatkan anak kelas empat SD tersebut.

 

"Kemarin Afika tak sengaja membaca slip gaji ayah sebagai PNS, Jumlahnya hanya Rp. 3.200.000,- tapi kenapa selalu tampak banyak uang dan ibu selalu saja belanja barang-barang mewah. Untuk apel saja ibu lebih suka apel Washington, padahal ibu adalah orang Malang." Afika menjelaskan dengan cukup serius, untuk anak seusianya, Afika memang terbilang cerdas dan kritis.

 

"Bisa jadi ayah Afika punya usaha sampingan." Ustadz Haris menenangkan.

 

"Setahu Afika tidak ada. Selain sebagai PNS, ayah tidak punya pekerjaan lain. Pak Ustadz, Afika sedih karena punya ayah yang tidak sayang pada Afika, membiarkan daging & darah Afika berasal dari uang haram." Lalu Afika pun kembali terisak.

 

Ustadz Haris kali ini tidak mampu berkata apa-apa lagi. Jantungnya berdebar, tubuhnya gemetar. Afika telah membuat ustadz Haris tertampar, karena selama ini Pak Ustadz telah melakukan hal serupa, mengambil uang tabungan siswa karena butuh untuk biaya mengobati anaknya yang sakit.

 

******************

Gambar dari sini

Dapatkan pemberitahuan artikel & berita-berita terbaru dari PNBB melalui email anda.
© 2020 PNBB - Allright Reserved - Site Credit
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram