Forum PNBB

Forum Diskusi Komunitas PNBB
oleh Heri Cahyo

Sudah lama pengen nulis pengalaman ini, cuman saya benar-benar ingin mengujinya beberapa kali sebelum benar-benar saya tuliskan.

 

SEFT Point

SEFT Point

Ya, semenjak pelatihan SEFT di Malang Post tanggal 12 Pebruari 2012 yang lalu, saya baru bisa praktik SEFT hanya pada orang-orang di keluarga saya. Mulai istri dan anak-anak.

 

Memang pengalaman saya belum se-dahsyat Om Nur Muhammadian – yang dengan izin Allah bisa menaklukkan 4 perokok hingga insyaf serta membantu seorang yang Phobia terhadap durian menjadi lebih baik, Alhamdulillah.

 

Lha saya?

 

Terus terang bingung  juga, nyari “mangsa” yang punya masalah khusus seperti contoh pasien yang ditangani om Dian di atas, tetapi saya ingat motto dari SEFT – try it on everything – alias cobalah pada apa saja. Maka untuk mencobanya saya menjadikan anak-anak saya untuk saya Tapping.

 

Tentu saja, karena mereka tidak secara langsung saya terapi, maka prosedur SEFT yang harus ada seperti relaksasi, kalimat SET-UP, Tune-in, baru tapping tidak terpenuhi semua. Tappingnya pun bukan yang edisi lengkap tetapi edisi singkat.

 

Nah, kasus yang saya tangani semuanya terkait dengan “menenangkan” anak-anak yang sedang marah dan menangis.

 

Biasalah, 4 orang anak yang usianya antara kelas 5 SD dan yang bontot 2,3 tahun kumpul pasti sering terjadi “bentrokan”.  Dan kalo sudah begitu, yang merasa jadi korban akan menangis meraung-raung, bahkan tidak berhenti sebelum ada pembalasan. Apalagi si Dayyan dan Habib, yang kalo tidak ketemu saling kesepian dan merindukan, tetapi kalo pas bersama selalu ada gesekan.

 

Suatu sore, mereka bertengkar, pemasalahan hanya sepele, saling ejek dan adu mulut. Karena jengkel si habib melempar bantal ke Dayyan, maka seperti biasaterjadi pertempuran dnegan media bantal dan guling.  Setelah saya pisah, mereka saya marahi, tetapi Dayyan tidak terima karena merasa dia benar, dan dia menangis dengan teriak-teriak.  Dan kalo si Dayyan ini track racordnya kalo nangis sejak bayi, bisa bikin orang sekampung pada pengen tahu kenapa. Karena risih dengan tangisan yang meraung-raung saya panggil Dayyan baik-baik untuk masuk ke kamar, dan saya minta tidur. Dia tetap ngomel panjang pendek dan mengatakan saya tidak adil karena memarahi dirinya. Tetapi saya berusaha tenang dan mulai mengajak Dayyan bicara hal-hal lain, tanya kegiatannya di sekolah, tanya game yang biasa dia mainkan, dan macam-macam. Sambil bertanya saya mengetuk-ngetuk pelan bagian atas kepalanya, berlanjut pada titik meridian di ujung alisnya sampai dibawah ketiaknya. Semua saya lakukan dengan perlahan, sambil mengajaknya bicara. Lambat laun, kemarahannya mereda dan sekitar 30 menit kemudian dia tertidur.

 

Kasus kedua, masih masalah nangis dan marah. Kali ini yang jadi korban adalah si bontot Kya. Pasalnya si Habib beraksi menjaili Kya. Entah apa yang dia lakukan yang jelas Kya menangis meraung-raung, sambil berkata… “Habib elek… Habib elek…!”  Saya panggil si Kya dan saya gendong sambil saya ajak ngobrol dan tangan kanan saya juga men-tapping titik-titik meredian yang ada di kepala dan wajahnya dengan pelan, sekitar 10 menit kemudian tangis Kya sudah reda dan bisa saya turunkan dari gendongan.

 

Dan yang paling baru adalah Nadia. Hari ahad lalu, entah mengapa dia dimarahi Ibunya, seperti biasa dia langsug lari ke kamar dan membenamkan muka dan tubuhnya di kasur, sambil menangis terisak-isak. Saya mendekati dan mengajaknya ngobrol, seperti biasa dia merasa sebal dimarahi dan dia berkata dengan sangat emosional. Saya hanya mendengarkan saja sambil mengajak ngobrol hal lain dan tangan kanan saya mentapping mulai kepala hingga daerah di bawah ketiak. Alhamdulilllah beberapa saat kemudian emosinya mulai stabil dan bisa bicara dengan baik, kemudian saya beri air putih dan bisa tersenyum lagi.

 

Siangnya, Habib membuat masalah lagi, kali ini tetap Nadia korbannya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba penggaris yang dijadikan Nadia untuk menggambar patah. Tentu saja Nadia berang dan marah kemudian dilanjurkan menangis keras. “Wah, gawat neh, gambarnya bisa dirobek kalo marah!” begitu saya kata saya dalam hati. Pasalnya Nadia saya minta nggambar buat sampul bukunya Om Dian.

 

Segera saya temui Nadia yang sedang ngamuk-ngamuk ke Habib, dan saya peluk sambil saya tapping kepalanya. Saya juga ajak dia ngobrol dan saya janjikan penggarisnya saya ganti. Saya juga minta Dayyan mengambilkan air putih. Setelah beberapa tapping lembut di kepala dan wajah, dan saya beri minum alhamdulillah emosi marahnya mereda dan dia bisa konsentrasi menggambar lagi.

 

Hmmm… tidak terlalu menarik kasusnya, tetapi saya merasa SEFT cukup membantu menenangkan emosi anak-anak saya.

 

Bagaiamana pengalaman anda?

*****************

Gambar di ambil dari sini

Oleh Achoey El Haris di PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng
tangis

tangis

Sebelum pulang, semua anak mengantri untuk menyalami Ustadz Haris, tapi tidak dengan Afika, Afika memilih tetap tidak beranjak dari tempat duduknya, wajahnya disembunyikan dibalik buku catatannya yang tampak terbuka. Merasa antrian salaman dari anak-anak dah habis, sang Ustadz pun mendekati Afika, bukan bermaksud menawarkan Oreo tentunya.

 

"Nanda Afika, kenapa kau tak segera pulang?" Ustadz Haris bertanya. Yang ditanya tak bergeming. Sang ustadz pun heran lalu melangkahkan kakinya untuk dapat lebih dekat. Diintipnya wajah Afika yang terhalang buku catatan. Ada tampak air mata mengalir membasahi pipinya. Sang ustadz pun kembali bertanya pada Afika, dengan intonasi yang jauh lebih lembut.

 

"Afika sayang, kenapa kau menangis? Ceritakanlah pada Bapak!"

 

"Pak Ustadz, bolehkah Afika tinggal di rumah Pak Ustadz?" Afika bertanya.

 

"Lho kenapa. Setahu Bapak, ayah dan ibumu sanagat sayang dan memanjakanmu. Kenapa kau malah ingin tinggal di rumah kumuh milik bapak?" Ustadz Haris keheranan.

 

"Tidak Pak Ustadz, ayah dan ibu tidak sayang sama Afika. Buktinya ayah telah tega memberi makan dan menghidupi Afika dari uang haram."

 

"Lho dari mana Afika bisa menyimpulkan hal itu? Jangan berburuk sangka, apalagi pada orang tua sendiri!" Ustadz Haris mencoba mengingatkan anak kelas empat SD tersebut.

 

"Kemarin Afika tak sengaja membaca slip gaji ayah sebagai PNS, Jumlahnya hanya Rp. 3.200.000,- tapi kenapa selalu tampak banyak uang dan ibu selalu saja belanja barang-barang mewah. Untuk apel saja ibu lebih suka apel Washington, padahal ibu adalah orang Malang." Afika menjelaskan dengan cukup serius, untuk anak seusianya, Afika memang terbilang cerdas dan kritis.

 

"Bisa jadi ayah Afika punya usaha sampingan." Ustadz Haris menenangkan.

 

"Setahu Afika tidak ada. Selain sebagai PNS, ayah tidak punya pekerjaan lain. Pak Ustadz, Afika sedih karena punya ayah yang tidak sayang pada Afika, membiarkan daging & darah Afika berasal dari uang haram." Lalu Afika pun kembali terisak.

 

Ustadz Haris kali ini tidak mampu berkata apa-apa lagi. Jantungnya berdebar, tubuhnya gemetar. Afika telah membuat ustadz Haris tertampar, karena selama ini Pak Ustadz telah melakukan hal serupa, mengambil uang tabungan siswa karena butuh untuk biaya mengobati anaknya yang sakit.

 

******************

Gambar dari sini

kidnap

kidnap

Oleh Isparmo Seo di PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

 

Topan adalah seorang anak laki-laki kelas 2 SMP yang sekolah di sebuah sekolah favorit bertaraf internasional di kota tempat tinggalnya. Ia lahir dari sebuah keluarga kaya raya. Bapaknya adalah seorang pengusaha yang memiliki 4 perusahaan besar. Dan bahkan tempat di mana Topan bersekolah adalah milik bapaknya sendiri. Sedangkan ibunya adalah pemilik sebuah butik besar yang pelanggannya adalah ibu-ibu pejabat di kota tersebut.

 

Mungkin karena kurang perhatian dari orang tuanya yang super sibuk, Topan tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan arogan. Terutama saat di sekolahnya, Topan merasa menjadi penguasa terhadap teman-teman dan gurunya. Ia sering berlaku semena-mena dan menang sendiri. Ini terjadi karena tak ada satupun guru yang berani menegur atau mengingatkanya, sebab jika hal tersebut dilakukan para guru tersebut takut Topan akan melaporkan kepada bapaknya sebagai pemilik sekolah tersebut.

 

Seperti terjadi pada jam istirahat di kantin sekolah, Topan memamerkan kekuasannya kepada teman sekelasnya. Saat itu Arul sedang menikmati semangkuk soto, tempat duduk di sekitarnya telah penuh terisi oleh teman-teman lainnya yang juga sedang menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba datanglah Topan mendekati Arul.

 

"Arul, minggir, saya mau duduk di tempatmu !" Bentak Topan.

 

Dengan nada setengah ketakutan Arul menjawab, "Maaf Topan, sebentar saya selesaikan makan soto ini, tinggal sedikit kok"

 

"Tidak bisa ! Aku sudah lapar dan mau duduk di tempatmu" Jawab Topan dengan nada yang lebih tinggi.

 

Tanpa menjawab lagi, Arul segera bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan soto yang masih tinggal separo. Tentu saja sikap Topan ini membuat jengkel dan marah Arul dan teman-teman yang ada di kantin tersebut, tetapi kemarahan tersebut tidak pernah terungkap, karena takut. Arul hanya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan berikanlah peringatan kepada Topan atas kesombongan dan kesemena-menaannya"

 

Rupanya doa Topan dikabulkan Tuhan, suatu hari Topan di culik oleh orang yang tidak suka dengan bapaknya karena urusan bisnis. Penculik tersebut menyembunyikan Topan di sebuah daerah kumuh di kota lain yang bersebelahan dengan kota tempat tinggal Topan dan orang tuanya. Penculik tersebut meminta tebusan sebesar Rp 10 milyar untuk ditukar dengan Topan, dan bapak Topan hanya diberi waktu 1 minggu untuk memberikan tebusan tersebut. Jika tidak diberikan, maka Topan akan dibunuh.

 

Dalam ruangan penyekapan penculik tersebut, Topan merasa sangat-sangat ketakutan. Ia dikurung di sebuah ruangan sempit berukuran 3m x 3m. Tidak ada jendela, hanya ada 2 lubang angin dan sebuah pintu yang dikunci dari luar. Lampu penerangan pun hanya sebuah bola lampu redup 10 watt. Penculik masuk ke ruangan tersebut saat memberikan makan siang dan makan malam saja. Makanannya pun hanya berupa nasi bungkus dan sayur saja tanpa ada lauk lain.

 

Topan menangis sejadi-jadinya. Tetapi suara tangisan tersebut bukan membuat penculik iba tetapi justru marah besar. Topan diancam akan di ikat dan diplester mulutnya jika tetap menangis.

 

Saat malam tiba Topan tak bisa tidur. Bagaiman mau tidur, di ruangan tersebut tidak ada spring bed seperti di rumahnya, hanya ada sebuah tikar lusuh di atas lantai kotor. Nyamuk pun berdenging dan menggigit tubuh Topan. Boro-boro AC, kipas anginpun tidak ada dalam ruang penyekapan tersebut. Topan benar-benar merasa tersiksa, dengan keadaan tersebut.

 

Di malam ke tiga penculikan dirinya, seperti keadaan malam-malam sebelumnya, Topan tetap tidak bisa tidur. Ia mulai merenungi dirinya, mengapa hal ini terjadi pada dirinya. Topan mulai mengingat-ingat sikapnya selama ini terhadap teman-teman sekolahnya. Kesombongan, arogan, mau menang sendiri, merupakan sikap keseharian Topan sebelum penculikan. Topan meneteskan air matanya. Ia mulai menyadari kesalahannya selama ini.

 

"Tuhan telah memberikan peringatan keras kepadaku. Tuhan...ampuni kesalahanku, aku sekarang sadar atas semua sikap jahatku. Ampuni aku Tuhan"

 

Sambil bersujud, Topan terisak-isak sambil terus memohon ampun kepada Tuhan. Dalam doanya ia berjanji kepada Tuhan bahwa Ia tidak akan mengulangi sikap-sikap jahatnya. Ia berjanji akan meminta maaf kepada teman-temannya yang pernah ia perlakukan tidak baik. Dan ia juga berdoa agar Tuhan segera mengakhiri penderitaan penculikannya.

 

Ternyata kesungguhan Topan dalam meminta ampun dan berdoa dikabulkan Tuhan. Hari ke empat penculikan, datang sepasukan polisi lengkap dengan senjata laras panjang menyerbu ke tempat di mana ia diculik. Polisi menangkap semua penculik dan membawa Topan kepada ke dua orang tuanya.

 

Setelah kejadian penculikan tersebut, Topan seperti terlahir menjadi anak baru. Sikapnya berubah drastis. Tidak ada lagi kesombongan, arogansi dan mau menang sendiri lagi. Ia meminta maaf terhadap guru dan teman-teman di sekolahnya atas semua sikap dan kelakuan tidak baiknya. Topan sekarang menjadi anak yang murah senyum, suka bercanda dan sering mentraktir teman temannya.

 

******

Gambar diambil di sini

oleh : Siska Ferdiani

 

Defensif ??”  Jidatku berkserut demi mendengar istilah asing itu. “Apa pula itu?”

Defensif itu maksudnya sikap bertahan, bu Sis.” Pak Ari yang baru selesai sholat langsung nimbrung

”Sikap bertahan? Maksudnya?” Lipatan dahiku semakin dalam

”Iya, tadi Tio merasa, tertuduh, tersudut dan terancam, maka muncullah sikap defensifnya. Sikap defensif  itu bisa berkonotasi positif atau negatif. Dan dari cerita bu Yani tadi, sepertinya Tio sudah punya bibit sikap defensif negatif yakni suka ngeyel, membantah dan berdebat.” Pak Ari menjawab pertanyaanku dengan panjang x lebar x tinggi ...

”Trus, pemicunya apa pa? Kenapa seseorang bisa bersikap defensif seperti itu? Penanganannya bagaimana pa? Trus Apakah sikap defensif  ini ada hubungannya dengan pola didik orang tua?”” Aku memberondong pak Ari dengan banyak pertanyaan. (lebih…)

Oleh Siska Ferdiani

 

“Bu Yani, makannya khusyu banget sih, jidatnya sampe berkerut-kerut gitu.” Mendengar teguranku yang tiba-tiba itu, sontak bahunya terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur.

Uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK

“Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum minum, nii minum dulu buu …”Segelas air yang kuangsurkan ditenggaknya hingga nyaris tandas.

Aku menatapnya dengan intens, pupil mataku melebar, “Kamu kenapa sih jeng? Ada yang dipikirin yaa??”

“Ehmm enggaakk … enggak napa-napa kok bu. Eh udah selesai nih makannya, saya naik duluan ya.” Tatapan mataku mengiringi kepergian sobatku itu dari kantin. Di tengah jalan, ku lihat seorang ibu menghentikan langkahnya. Alis mata bu Yani tertarik ke atas, dengan ragu dia menyalami tamunya itu. Tapi kemudian mereka berdua menaiki tangga bersama.

Setelah mereka menghilang di balik tangga, aku kembali beralih ke santapan siangku. Tiba-tiba menu botok ayam kesukaanku sudah tidak mengundang selera lagi. Aku memutuskan untuk menyudahi lunch dan segera beranjak ke ruang guru di lantai atas. Saat melewati ruangan BP, langkahku terhenti demi mendengar keributan di dalam …

““SAYA TIDAK MENCURI BU.” Suara teriakan anak laki-laki

BRAAAAAAAAAKKKK … (lebih…)

Dapatkan pemberitahuan artikel & berita-berita terbaru dari PNBB melalui email anda.
© 2020 PNBB - Allright Reserved - Site Credit
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram