Forum PNBB

Forum Diskusi Komunitas PNBB

By Ibnu Sururi Asy-Syirbuny in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Alan dijebloskan ke dalam penjara karena tuduhan kasus narkoba. Dia difitnah, dunia kriminal Brazil memang kejam. Sudah dianiaya, barang-barangnya dirampok, dijebloskan dalam penjara pula. Sementara penjara di Brazil begitu panas, padat dan mengerikan. Penjara itu bernama Carandiru Prison. Baru saja dia masuk, semua penghuni penjara berteriak bersahut-sahutan sambil memukul-mukul besi pintu sel penjara. Alan dilanda ketakutan luar biasa. Dia terus berjalan menyusuri lorong-lorong sel penjara. Dilihatnya para narapidana di Brazil posturnya besar-besar, kekar, dan berotot. Di sekujur tubuh mereka hampir dihiasi dengan tato-tato yang menyeramkan.

 

“Hey, pendatang baru, kemarilah. Kita bersenang-senang, hahaha.” Salah seorang berteriak mengolok-olok Alan.

“Orang mana kamu, kok beda dengan kami. Nikmatilah hidupmu di penjara Brazil. Hahaha.”

 

Semua penghuni penjara tertawa. Sepertinya mereka akan mendapatkan ‘santapan’ baru. Alan namanya. Dia mungkin akan menjadi bulan-bulanan bagi mereka. Alan tak habis pikir jalan hidupnya bisa tersesat di penjara Brazil. Di mana Leo, dialah biang kerok semua ini. Dia yang membuatnya menderita seperti ini. Kalau saja nanti bertemu, pasti Alan akan menghabisi Leo.

 

Alan ditempatkan di komplek sel khusus terdakwa narkoba. Kebetulan dia berada satu sel bersama bandar-bandar kakap narkoba. Ada Sergio, dia sangat menguasai bisnis ganja di Brazil, Antonio, sang pemilik pabrik ekstasi di Sao Paulo, dan Ricardo, bandar jaringan narkotika di Rio de Janeiro. Begitu Alan masuk, ketiga orang tersebut diam sambil memandang aneh sosok Alan.  Mungkin mereka baru pertama kali melihat wajah yang asing seperti Alan, selain itu postur tubuhnya juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan orang-orang Brazil. Alan pun terdiam cemas sambil melayangkan senyum kecut kepada mereka.

 

“Hey, kamu siapa,” Tanya Antonio.

“Sa.. ya... Aaa.. lan.” Jawab Alan gugup.

“Dari mana asal kamu?”

“Hmm, saya dari Indonesia.”

“Apa kasus kamu, jauh-jauh dari Indonesia ke Brazil?” Kini giliran Sergio bertanya.

“Saya dituduh menjual ekstasi, padahal tidak.”

Mereka bertiga serentak tertawa mendengar kepolosan Alan.

“Hahaha, Brazil memang kejam bung, siapa saja bisa jadi korban.” Sahut Ricardo.

“Masuklah! kamu teman kami sekarang.” Ucap Sergio.

 

Alan pun merasa lega.

 

***

 

Suatu ketika Alan sedang mengantri untuk mengambil jatah makan siang. Sebagai penghuni baru, dia juga harus mengambilkan jatah makan untuk ketiga rekan satu selnya. Dia membawa tiga piring dalam dua tangan. Saat Alan sedang berjalan, tiba-tiba ada seorang narapidana yang usil terhadapnya. Dia pura-pura menabrak Alan sehingga piring-piring yang berisi makanan itu jatuh berantakan.

 

“Hey, kamu menumpahkan makanan saya!” Alan seketika marah.

Orang tersebut malah mendekati Alan, mencekik lehernya lalu mengancam.

“Kamu orang Asia jangan banyak tingkah di sini, bisa tamat riwayatmu. Kamu ingin mati, hah!”

 

Alan hanya bisa terdiam. Dia sebenarnya mau melawan, namun dia pikir percuma saja, dia bisa mati konyol nanti. Dia pun kembali ke kamar selnya dengan tangan hampa. Ricardo menanyakan dimana jatah makan siangnya. Lalu Alan pun menceritakan kronologis sebenarnya. Lalu dia bersama dua temannya segera mendatangi sang pelaku yang menabrak Alan itu. Ricardo yang mempelopori menghajar orang tersebut. Lalu diikuti oleh Antonio dan Sergio. Sang pelaku akhirnya babak belur, menyerah dan minta maaf karena tidak mengetahui bahwa makanan yang dibawa orang Indonesia itu adalah milik mereka.

 

***

 

Malam itu Alan tak bisa tidur. Dia sangat terganggu dengan suara-suara ribut dari para penghuni sel yang lain. Sungguh hidup di penjara sangat menjemukan baginya. Tiga temannya yang lain telah tertidur. Alan mengambil air wudhu ke toilet lalu mendirikan shalat di dalam penjara. Tak sengaja Sergio terbangun sejenak lalu melihat Alan yang menurutnya sedang melakukan gerakan-gerakan aneh.

 

“Hey, apa yang kamu lakukan,” Tanya Sergio agak terkejut.

“Saya sedang sembahyang, Sergio.” Jawab Alan.

“Sembahyang macam apa itu, kau bersujud kepada tembok?”

“Saya bukan bersujud pada tembok, saya bersujud pada Tuhanku.” Terang Alan.

“Hmm, ritual yang aneh.” Gumam Sergio lalu kembali tidur.

 

Keadaan kembali sunyi, pikiran Alan melayang jauh ke tanah kelahirannya di Indonesia. Dia teringat dengan keluarganya, mungkin mereka sangat khawatir dengan kondisi dirinya sekarang yang tak jelas kabar beritanya. Namun Alan tak bisa banyak berbuat, sel-sel jeruji besi membuatnya tersandera di negeri yang dikenal dengan hutan amazonnya itu. Sebenarnya Alan adalah seorang petualang sejati. Sewaktu masih sekolah, dia bersama teman-temannya hobi berpetualang ke berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, dan lainnya, tanpa bekal sedikit pun. Dia dan teman-temannya hanya berbekal nekat. Ketika tak ada uang, dia punya cara jitu, yaitu mengamen di jalanan.

 

Jika berpetualang, biasanya Alan menggunakan mobil omprengan, seperti truk dan kontainer. Dia juga suka naik kereta api, tapi lagi-lagi dia tidak mau membayar untuk membeli tiket. Suatu ketika, Alan pernah ketahuan tak memiliki tiket. Dia pun langsung diusir dari kereta itu lalu disidang oleh petugas keamanan di stasiun. Dia kena denda dengan membayar dua kali lipat harga tiket. Tapi Alan dan teman-temannya tidak mau membayar. Bukan apa-apa, mereka memang tidak punya uang sepeser pun. Akhirnya para petugas stasiun pun terpaksa membebaskan anak-anak ingusan itu. Mereka nampak kesal sekali dengan perilaku Alan dan kawan-kawannya. Tapi kini, Alan tak menyangka jika petualangannya kali ini berakhir di penjara Brazil, jelas ini mimpi buruk baginya.

 

Saat Alan sedang dalam lamunan, tiba-tiba terdengar suara alarm yang sangat keras. Keadaan penjara menjadi gaduh. Ini tandanya penjara dalam keadaan darurat. Ketiga rekannya pun terbangun. Menurut Sergio, biasanya dalam kondisi seperti ini ada sejumlah napi yang melarikan diri keluar dari penjara. Para penghuni penjara pun berteriak bersahutan. Tak lama kemudian pintu-pintu sel penjara terbuka secara otomatis, semua penghuninya pun keluar berhamburan. Alan diajak Antonio, Sergio dan Ricardo untuk segera kabur dari tempat jahanam ini.

 

“Ayo, kawan, kamu ikuti kami. Kita akan segera bebas dari neraka ini.” Ajak Antonio.

 

Mereka berempat melewati lorong-lorong bawah tanah yang gelap gulita bersama sejumlah narapidana lain. Alan hanya bisa mengikuti rekan-rekannya itu. Sampai akhirnya mereka bisa keluar dari lorong-lorong itu dan bisa menghirup alam bebas. Di sana ternyata sudah menunggu sebuah mobil truk besar untuk membawa para narapidana yang kabur. Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba terdengar tembakan senjata mesin dari arah atas.

 

“Dooor… Dooor!”

 

Semuanya lari merunduk dan menghindar. Tapi naas, Sergio terkena tembakan di bagian kaki kirinya.

 

“Aaaah!”.

 

Dia terjatuh dan berteriak histeris. Untungnya Antonio dan Ricardo sigap langsung memapah Sergio ke arah mobil. Sementara berondongan senapan mesin masih mengincar mereka. Mobil truk itu pun segera melaju kencang, semakin lama semakin jauh meninggalkan penjara laknat itu.

 

***

Bersambung..

By Ibnu Sururi Asy-Syirbuny in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

 

 

Malam sudah larut, sebuah bus baru saja tiba di terminal bus Rio de Janiero. Hujan turun sangat deras saat itu. Kilatan cahaya halilintar diiringi gelegar suara gemuruh membuat malam itu semakin mencekam. Para penumpang satu persatu turun lalu segera meninggalkan terminal karena dijemput oleh kerabatnya. Sementara Alan, seorang pemuda Indonesia, masih berteduh di sebuah bangku kosong seorang diri. Dia menggendong sebuah tas ransel besar. Di dalamnya terdapat, notebook, handphone, dan uang lima ratus dolar. Di sampingnya ada beberapa orang sedang bermain kartu. Mereka sesekali melirik ke arah Alan. Perasaannya semakin tak nyaman saja, jangan-jangan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Alan menghubungi temannya bernama Leo yang sudah berjanji untuk menjemputnya di terminal Rio De Janiero, namun ternyata ponselnya tak aktif.

 

“Duh, kenapa HPnya gak aktif,” gerutunya.

 

Leo mengiming-iming pekerjaan kepada Alan. Entah pekerjaan apa masih belum terlalu jelas. Leo bercerita padanya  tentang kesuksesan dirinya di Brazil. Akhirnya Alan pun memberanikan diri pergi ke negeri samba ini.

 

“Duaaarrrrr”. Suara halilintar itu kembali menggelegar. Alan pun terkaget lalu menyebut asma Ilahi. Dia tak menyangka jadi begini urusannya. Apalagi Brazil terkenal dengan kriminalitasnya yang sangat tinggi. Warga Brazil tidak begitu menaati aturan-aturan negaranya karena memang tingkat kemakmuran rakyatnya masih rendah. Alan mencoba kembali menghubungi temannya namun kembali gagal. Dia kebingungan, ke mana harus pergi. Padahal baru pertama kali dia pergi ke negara ini. Ada beberapa orang bertubuh besar melewatinya. Mereka memandangnya sinis. Mungkin karena wajah Alan agak asing bagi warga Brazil. Terlihat dari kejauhan mereka membawa kayu-kayu balok, batu-batu besar dan ada pula yang membawa senjata tajam. Alan pun semakin gelisah.

 

Setelah mereka berlalu, tiba-tiba terdengar suara keributan di ujung jalan. Ada hentakan batu dan teriakan orang terdengar begitu keras. Ternyata gerombolan tadi terlibat aksi baku hantam dengan gerombolan yang lain. Di tengah guyuran hujan, Alan berdiri menyaksikan mereka saling pukul dan mengejar satu sama lain. Namun tiba-tiba ada satu orang lari ke arahnya. Di belakangnya ada sejumlah orang yang mengejar penuh beringas. Orang itu terluka, sambil berlari dia memegang kepalanya yang mengeluarkan darah segar. Namun tiba-tiba orang tersebut menghampiri Alan lalu memberinya satu bungkus plastik hitam. Lalu pandangan mereka berbalik tertuju pada Alan. Mereka bergegas memburu Alan. Kontan Alan pun segera menghindar lalu berlari tak tentu arah.

 

“Hey, saya gak ikut-ikutan.” Teriak Alan.

 

Mereka tak menghiraukan teriakan Alan. Mereka mengira Alan masih satu komplotan dengan orang-orang itu. Ada dua orang yang berusaha mengejarnya. Dilihatnya ada yang membawa sebilah pisau besar. Alan berlari sekuat tenaga dan sekencang-kencangnya. Dia berbelok masuk dalam satu gang sempit, lalu menengok ke belakang ternyata hanya satu orang yang masih memburunya. Alan pun berhenti berlari. Kemudian berbalik arah lalu memutuskan untuk menghadapi orang tersebut.

 

"Kalau kamu mau plastik hitam ini, ambillah." kata Alan dengan nafas tersengal-sengal.

 

Orang itu semakin mendekati Alan. Dia berniat menghajar orang itu jika berbuat macam-macam dengannya. “Praaakkkk”, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul Alan dengan botol. Dia pun jatuh tersungkur, tergeletak lalu tak sadarkan diri. Dua penjahat tadi lalu mengambil plastik hitam tersebut yang ternyata berisi pil ekstasi. Mereka lalu menaruh sedikit ekstasi tersebut ke dalam tas milik Alan. Setelah mengambil semua barang-barang berharga milik Alan lalu dua orang tadi berlalu meninggalkannya.

 

Esok paginya, Alan pun sadar kembali. Dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Dilihatnya ada tiga orang personil polisi yang menjaganya.

 

“Anda kami tangkap karena terlibat kasus jual-beli ekstasi.” Ujar seorang polisi dengan tegas.

“Loh saya ini korban, pak.” Jawab Alan dengan suara lemah.

“Semuanya ada buktinya, di dalam tas anda ada puluhan gram pil ekstasi. Anda pasti pengedar. Apalagi anda warga Negara asing, pasti ada kaitannya dengan jaringan narkoba internasional.”

 

Tubuh Alan pun melemah lalu kembali tak sandarkan diri.

 

***

Bersambung...

Oleh: Azzurit Hijau 125

Rahman. Dia lelaki yang kukenal tiga bulan yang lalu lewat situs jejaring sosial facebook. Dia aktif sekali mengomentari status dan noteku, tak ada satu status dan satu noteku pun yang lewat dari komentarnya. Komentarnya bukan hanya sekedar komentar biasa, tapi dia juga menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an, motifasi, tausiyah, hadis dan kalimat-kalimat inspiratif. Komentarnya berhasil membakar semangatku, aku menjadi lebih baik dan lebih tegar dibuatnya. Aku pun selalu menantikan setiap komentarnya di facebookku. (lebih…)

Oleh: Haidi Yan

 Pernahkah kita tergila-gila dengan sebuah permainan game? Jika pernah, ya seperti itulah rasannya ketika sudah senang, suka dan dijatuhi oleh si cinta menulis. Kalau sudah begini sebenarnya tidak ada hambatan lagi.

“Ah...sombong kali kau...Haidi, memang sudah berapa tulisan yang kau hasilkan?”

He...he...belum ada yang dipublikasikan, tapi jujur, disinilah hambatan terbesar bagi Haidi.  Ketika berbicara tentang hambatan, tentunya setiap orang memiliki hambatan sendiri, sering terungkap, misalnya : Tidak bakat menulis, takut ditertawakan, tidak ada ide, bingung mulai dari mana, tidak menguasai topik, tidak ada waktu, dan yang paling parah adalah malas. (lebih…)

Oleh: Risma Purnama Aruan

 Hambatan menulis itu biasanya rasa malas! Jika rasa malas ini sudah mencogok biasanya saya akan menjadi ratu alasan, ga punya waktulah, lagi sibuklah, pc problem lah, lagi ada masalah hatilah alias lagi ga mood, lagi ga ada idelah,apa saja bisa jadi alasan! Pernah saya hampir dua minggu tak menulis apa apa, boro boro bikin notes yang dipublish, bikin catatan dinding saja tidak, apalagi kasih ide atau komentar. Ughhhh...si Ratu Alasan dan si Raja Malas saat itu sedang bersanding di pelaminan, tak bisa di ganggu, hehehe... (lebih…)

Dapatkan pemberitahuan artikel & berita-berita terbaru dari PNBB melalui email anda.
© 2020 PNBB - Allright Reserved - Site Credit
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram