Forum PNBB

Forum Diskusi Komunitas PNBB

Oleh: Azzurit Hijau 125

Rahman. Dia lelaki yang kukenal tiga bulan yang lalu lewat situs jejaring sosial facebook. Dia aktif sekali mengomentari status dan noteku, tak ada satu status dan satu noteku pun yang lewat dari komentarnya. Komentarnya bukan hanya sekedar komentar biasa, tapi dia juga menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an, motifasi, tausiyah, hadis dan kalimat-kalimat inspiratif. Komentarnya berhasil membakar semangatku, aku menjadi lebih baik dan lebih tegar dibuatnya. Aku pun selalu menantikan setiap komentarnya di facebookku. (lebih…)

Oleh: Risma Purnama Aruan

 Hambatan menulis itu biasanya rasa malas! Jika rasa malas ini sudah mencogok biasanya saya akan menjadi ratu alasan, ga punya waktulah, lagi sibuklah, pc problem lah, lagi ada masalah hatilah alias lagi ga mood, lagi ga ada idelah,apa saja bisa jadi alasan! Pernah saya hampir dua minggu tak menulis apa apa, boro boro bikin notes yang dipublish, bikin catatan dinding saja tidak, apalagi kasih ide atau komentar. Ughhhh...si Ratu Alasan dan si Raja Malas saat itu sedang bersanding di pelaminan, tak bisa di ganggu, hehehe... (lebih…)

Oleh: Rahma Damayanty Rivai

“Konon kabar, kata seorang paranormal, Jembatan Kutai Kertanegara ambruk karena tiada tumbal kepala kerbau. Nah, mungkin tulisan-tulisan anda mengalami hambatan, karena tak menyediakan tumbal sekarung coklat…"(kata paratidaknormal)

Pertama. Apakah aku pantas menulis tentang ini?

Sedangkan banyak draft-draft tulisanku terbengkalai. Tak berjudul. Tak beralur yang indah. Tak bertenaga. Tak ada akhir yang disiapkan. Tak ada tokoh yang sekuat Ikal dan Arai di Laskar Pelangi.

Apa yang ku miliki untuk menulis? Hanya segunung cita-cita. Setumpuk ide, sejumput motivasi dan waktu tidur siang yang tidak produktif.

Kedua. Tapi, karena menurut guru kesayanganku, Bapak Ersis Warmansyah Abbas: Menulis itu berbagi, jangan pelit menulis, maka ku tuliskan hal-hal ini.

Setiap pekerjaan besar, butuh suatu pengorbanan. Namun dalam hal menulis, ku rasa tak ada pengorbanan. Karena menulis adalah salah satu bentuk terapi jiwa. Saya pernah membaca, banyak jiwa yang terpulihkan karena menulis.

Yang perlu anda sediakan adalah menyediakan tumbal atau sajen SEKARUNG COKLAT. Atau SEKILO GETUK GORENG. Atau SEMANGKUK BUAH-BUAHAN. Atau SEGALON KOPI LATTE.

Atau ……..dan mulailah lakukan ini: Tinggalkan pekerjaan menulis. Berjalan-jalanlah. Temui banyak orang. Nikmati kota. Nikmati desa. Nikmati pagi. Nikmati malam.

Memasak. Coba resep-resep baru. Membaca banyak buku. Ada banyak buku panduan menulis termasuk didalamnya soal mengatasi hambatan menulis, seperti Buku-buku Pak Ersis Warmansyah Abbas (jumlahnya banyak sekali), Buku Arswendo Atmowiloto, Buku Gola Gong, atau yang paling mengena Stephen King on Writing. Buku Bu Naning Pranoto tentang Creative Writing.

Memberanikan diri mengirim surat pada para penulis terkenal. Luar biasa, mereka mau meluangkan waktu untukmu dan memberi saran-saran yang eksklusif Membaca Novel yang paling disukai. Novel klasik ok. Novel science fiction ok. Chicklit boleh juga (asal tak cabul). Baru-baru ini, saya membaca buku, “Diary Si Bocah Tengil” Jeff kinney. Asli lucu, asyik, dan menyegarkan. Menonton banyak film.

Ketiga. Nah, setelah melakukan semua hal ini, mulailah menulis lagi. Jika dalam proses ini tumbal SEKARUNG COKLAT itu tak habis, kau tahu kemana akan dikirimkan. HUBUNGI AKU.

********
Hatchery of words, Sunday November 27, 2011
Please, jangan habiskan coklatnya.Hubungi aku.

Oleh : Hesti Setiarini

 Hari Minggu ini genap dua bulan sudah Chieko pergi. Sudah bulan Juni sekarang. Bulan yang sering diwarnai derai hujan, sebelum musim panas menjelang.Terkadang angin bertiup kencang tak bersahabat.

Masih jelas membekas dalam ingatan Hiroaki saat istri tercintanya itu meregang nyawa, tepat sehari sebelum hari pernikahan mereka yang ke duapuluhtujuh. Bunga sakura kala itu masih menguncup, hanya menunggu beberapa hari saja sebelum bersemi indah. (lebih…)

Oleh: Lovalyka Maudy Chyntia

 

Di depan meja kasir, aku merogoh dompet warna merahku. Memberikan beberapa lembar lima puluhan ribu untuk pembayaran buku-buku yang baru saja kubeli. Setelah menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari toko buku itu.
Di luar ternyata hujan deras. Biasanya kalau sedang pergi belanja begini, aku selalu ditemani Thomas, pacarku. Tapi kali ini, Thomas sedang ada acara di gereja. Sehingga aku pergi tanpa dia. Lagipula ini hari Sabtu, jadwalku untuk pulang ke rumah ibu. maklum, anak kost. (lebih…)

Dapatkan pemberitahuan artikel & berita-berita terbaru dari PNBB melalui email anda.
© 2020 PNBB - Allright Reserved - Site Credit
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram