Forum PNBB

Forum Diskusi Komunitas PNBB

Oleh Heri Mulyo Cahyo 

Alhamdulillah, untuk memposting tulisan ini, sengaja saya menunggu hasil “munas kecil” di Jogja yang dihadiri beberapa delegasi PNBB dari Malang, Jogja, Jakarta, Sumatera dan Jawa Tengah. Ada beberapa keputusan yang insyaAllah membuat PNBB semakin baik ke depannya.

Personal Branding

Personal Branding

Satu di antara keputusan tersebut bahwa PNBB – di bawah naungan lembaga yang menerbitkan buku Masa Kecil yang Tak Terlupa – insyaAllah akan menjadi “semacam penerbit sendiri” – yang seluruh hasil karya PNBB ke depannya akan memakai “bendera” PNBB dan ber-ISBN yang terdaftar atas nama PNBB. Alhamdulillah juga, setelah dari Jogja, kita sudah menemukan percetakan calon mitra kerja PNBB – meski bisa saja ke depan kita akan mencari percetakan lain yang lebih kompetitif.

Seiring dengan posisinya sebagai penerbit bagi karya-karya anggotanya, tentu saja akhirnya secara institusi PNBB harus berpikir tentang bagaimana agar buku-buku yang dicetak itu laku sehingga perputaran modal tidak mandeg di satu proyek saja, tetapi terus berkesinambungan sehingga impian untuk MEMBERIKAN BUKU GRATIS BAGI PENULIS naskah buku yang dicetak menjadi nyata, insyaAllah.

Berdasarkan pemikiran itu, mau tidak mau kita harus berpikir tentang pangsa pasar bagi produk-produk kita (PNBB). Oleh karenanya, satu cara yang sedang kita tempuh adalah melakukan BRANDING PNBB dan penulisnya kepada khalayak sebanyak mungkin.

Untuk pertama kali, memang dunia literasi online-lah yang akan kita “serbu” dengan branding PNBB – dengan memanfaatkan situs jejaring sosial media dan menjalin mitra kerja online yang mempunyai visi dan tujuan yang sejenis atau saling menguntungkan kedua belah pihak.

Sedikit penjelasan mengapa dunia online yang menjadi sasaran utama kita, karena sebagaimana data-data yang bisa kita akses, pertumbuhan pemakai internet di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan. Sebut saja kabar terakhir pemakai Facebook di Indonesia adalah sebanyak 40 juta, dan pada 2015 diperkirakan pemakai Facebook dari Indonesia sekitar 100 juta. Yang menarik lagi bahwa pengguna Facebook adalah mereka yang secara pendidikan tergolong menengah ke atas. Lihat saja anak SD pun sudah kenal FB.

Di otak pelaku pemasaran internet, tentu itu peluang yang sangat menjanjikan untuk “berjualan”. Katakan dari 40 juta itu kita bisa menggaet “crazy customer” (meminjam istilah juragan Siomay Onlen Om Akung Krisna), sebanyak 0,25 persen saja untuk menjadi pembeli tetap produk PNBB sudah 200.000 (DUA RATUS RIBU) orang hmmm, angka yang fantastis bukan? Jadi kalau cuma cetak buku 1000 eksemplar, dengan potensi pasar sebegitu, insyaAlah sudah tutup modal deh hehehehe.

Akan tetapi, semangat untuk jualan itu tentu HARUS didukung dengan SEMANGAT MENINGKATKAN KARYA...

Ya, kalau karya kita ecek-ecek dan tidak layak baca, ya sama saja. Pemasaran yang gencar dengan produk yang rendah hanya akan menjadi bumerang bagi keberlangsungan proyek-proyek kita ke depan.

Meski demikian, ketika kita masih belajar, BRANDING harus sudah kita lakukan. Tujuannya adalah untuk berlatih meningkatkan karya kita dan melakukan tes pasar untuk mengetahui seberapa baik penerimaan orang atas karya kita!

Caranya bagaimana, Pakde?

Di awal 2012, saya sudah menghubungi seorang pengelola “perpustakaan online” yang juga anggota PNBB – mbak Evyta Andriani.  Sahabat kita satu ini mengelola sebuah situs yang pengunjungnya boleh mengunduh koleksi buku-buku digital (e-book) yang ada di sana, nama situsnya adalah www.pustaka-ebook.com – dan dari hasil “negosiasi” saya dengannya, pustaka ebook akan menjadi partner kita dalam menyebarkan karya-karya anggota PNBB.

Sedikit alasan mengapa saya memilih situs tersebut sebagai partner dalam branding PNBB adalah, karena situs tersebut memiliki “penggemar” di Facebook sebanyak 30 RIBU orang lebih,  (bisa dilihat dari fans page FB yang dipasang di sana). Namun yang paling menjanjikan untuk melakukan Branding adalah pelanggan Newsletter (RSS FEED) dari situs tersebut sebanyak 4.000 (EMPAT RIBU) orang lebih.

Apa arti angka-angka tersebut bagi branding kita?

Artinya, setiap kali ada sebuah posting artikel yang ada di situs tersebut langsung akan dikirimkan ke 4000 email pelanggan situs tersebut.

Bayangkan kalau misalnya sebuah buku produk PNBB di review di sana maka akan langsung masuk ke email 4000 orang tadi. Kalau dari 4000 orang tadi yang membaca separuhnya saja sudah 2000 orang, kalau dari separuh yang membaca saja tertarik mengunduh berarti sudah ada 1000 orang, kalau ada 5 persen saja dari pengunduh itu yang pengen beli buku, berarti SUDAH ADA 50 orang yang akan BELI BUKU.

Makanya insyaALLAH ke depannya setiap buku PNBB nantinya akan di review di situs tersebut dan akan disediakan beberapa halaman “preview” dari buku yang sudah dicetak dengan tujuan calon pembeli bisa melihat-lihat isi buku yang akan dibeli.

Tentang mekanismenya bagaimana?

InsyaAllah saya lanjutkan di catatan berikutnya.

Selamat mengikuti.

*********

Catatan:

 

Untuk Versi e-book dari Tulisan Personal Branding: Cara Ngetop Buat Penulis Pemula.  Silahkan unduh di Pustaka Ebook - tautannya di sini 

Gambar diambil dari sini

Oleh Siska Ferdiani

“Bu Yani, makannya khusyu banget jidatnya sambil berkerut-kerut gitu.” Bu Yani terperanjat. Bahunya sontak terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur

Uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK …

Melihatnya tersedak, aku jadi panik. “Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum … mana minum … nii minum dulu buu …”Segelas air yang kuangsurkan ditenggaknya hingga nyaris tandas.

Aku penasaran dengan sikap aneh rekanku ini. Aku menatapnya dengan intens, pupil mataku melebar“Kamu kenapa sih jeng? Ada yang dipikirin yaa …” .

“Ehmm enggaakk … enggak napa-napa kok bu. Eh udah selesai nih makannya, aku naik duluan ya.” Tatapan mataku mengiringi kepergian bu Yani dari kantin. Di tengah jalan, ku lihat seorang ibu menghentikan langkahnya. Alis mata bu Yani tertarik ke atas, dengan ragu dia menyalami tamunya itu.

***
Sudah baca penggalan cerita di atas? Pastinya sobat ikut mengerutkan jidat saat membacanya bukan? Ingin tahu apa yang terjadi dengan rekanku itu? Atau minimal bertanya-tanyallah, kok tulisannya ada yang dicoret-coret sih? Hehee … suka deh bikin penasaran kalian semua.

Jadi begini sobat, kebetulan kemarin siang saya menemukan buku menarik yang berjudul Asyiknya Menulis Cerita karya Celia Warren. Sebetulnya buku itu diperuntukkan untuk anak-anak, tapi untuk saya yang tak pernah belajar teori menulis, buku simple itu cukuplah membantu memahami tentang beberapa komponen dalam cerita. Berhubung saya ingin membuat serial Lunch Time, jadi ada baiknya tips-tips tersebut ku praktekkan dan sekalian ku share kepada sobat sekalian.

Sebelum itu, beberapa hari yang lalu, saya mengikuti acara bedah cerpen di komunitas sebelah. Cerpennya sendiri menarik, tetapi yang lebih menarik adalah kripik pedasnya, terutama kripik yang satu ini :

Cerpen di atas terlampau memberikan kesan 'Tell', minimnya deskripsi, 'show it, dont tell it'. Memperlihatkan ketergesa-gesaan menggarap dan menuntaskan cerita.

Kalau soal ketergesa-gesaan sih sudah biasa kita dengar ya sobat. Tapi istilah ‘Tell’, ‘show it’ dan ‘don’t tell it’ itulah yang bikin penasaran, kira-kira apa yah maksudnya. Tapi Alhamdulillah, Celia Warren menjawab rasa penasaran saya dengan singkat dan jelas.

Tips 1 Menunjukkan Emosi :
Di dalam tulisan, lebih baik kita memperlihatkan sesuatu dan bukan memberitahukannya. Ekspresi wajah dan bahasa tubuh seseorang memperlihatkan perasaannya. Bayangkanlah karakter tokoh kalian. Lalu, tunjukkanlah, jangan katakan kepada pembaca, tentang perasaan tokoh itu melalui tindakan, reaksi, dialog dan bahasa tubuhnya.

Contoh 1:
Katakan : Bu Yani terperanjat
Tunjukkan : Bahunya sontak terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur … uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK …

Catatan : Saat menunjukkan, kata kerja ‘terperanjat’ tidak muncul. Tetapi kita tahu bu Yani sangat kaget hingga tersedak.

Contoh 2 :
Katakan : Melihatnya tersedak, aku jadi panik
Tunjukkan : “Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum … mana minum … nii minum dulu buu …”

Catatan : Saat menunjukkan, kata sifat ‘panik’ tidak muncul. Tetapi dari ucapan tersebut, kita tahu ‘Aku’ sedikit panik melihat rekannya tersedak.

Naah, sekarang sudah paham kan, kenapa ada coretan-coretan di penggalan cerita di atas? Yup, itu hanya sekedar contoh saja sob. Oke sekarang kita beralih ke kasus selanjutnya. Ketika saya meminta saran masukan dari sobat-sobat berkaitan dengan ebook kedua saya yang berjudul ‘Lunch Time’, sobat Doni Febriando melemparkan kripik maicih tingkat 3 kepada saya, berikut petikannya :

Tulisannya mbak menurutku sudah bagus. Temanya pun oke oke. Hanya saja, kalo dianalogikan dgn cerpen, tulisan mbak sedikit bagian pembukanya lalu kebanyakan bag konfliknya lalu ditutupnya lmyn kecepetan. Pdhl aku pas itu lg mikir, eh tb2 udh mulai selesai

Sekali lagi saya berpikir keras, sebetulnya bagian pembuka dan penutup yang bagus itu seperti apa ya? Sekali lagi, beruntung saya ‘bertemu’ dengan Celia Warren, walaupun masih minim contoh tetapi lumayanlah untuk sedikit menyibak kabut misteri tentang teori bagian awal, tengah dan akhir pada sebuah cerita.

Tips 2 Urutan Cerita :

Awal

Mulailah bercerita dengan ringkas. Libatkan pembaca tanpa banyak memberi penjelasan atau info rinci. Membuka cerita dengan kalimat langsung merupakan awal yang menarik.

“Bu Yani, makannya khusyu banget jidatnya sambil berkerut-kerut gitu.” Bahunya sontak terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur

Uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK …

“Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum … mana minum … nii minum dulu buu …”Segelas air yang kuangsurkan ditenggaknya hingga nyaris tandas.

Aku menatapnya dengan intens, pupil mataku melebar.“Kamu kenapa sih jeng? Ada yang dipikirin yaa …”

“Ehmm enggaakk … enggak napa-napa kok bu. Eh udah selesai nih makannya, aku naik duluan ya.” Tatapan mataku mengiringi kepergian bu Yani dari kantin. Di tengah jalan, ku lihat seorang ibu menghentikan langkahnya. Alis mata bu Yani tertarik ke atas, dengan ragu dia menyalami tamunya itu.

Dari penggalan cerita di atas kita mengetahui beberapa hal :
1. Tokoh utamanya bernama bu Yani
2. Ada pertentangan dan masalah yang harus di atasi
3. Bu Yani tidak mengenal siapa ibu itu. (Penulis belum memberinya nama)

Tengah

Lalu, karakter tokoh berkembang dan semua peristiwa pun saling berkaitan. Jagalah plot yang terbuka cukup lama agar perhatian pembaca tidak beralih. Usahakan pula tidak terburu-buru agar pembaca mengenal para tokoh dan dapat mengikuti jalan ceritanya.

Akhir

Menyatukan semua ‘plot yang terbuka’ adalah hal yang penting. Jangan sampai pembaca berpikir, “Bagaimana dengan nasib si A dan B?” Berikan hasil yang memuaskan. Di akhir cerita, sebaiknya sebagian besar persoalan sudah terselesaikan. Buatlah pembaca puas setelah membaca kisah itu karena mengetahui apa yang terjadi pada semua tokohnya.

Nah, begitu ya sekilas teori tentang bagian awal, tengah dan akhir. Tapi mohon maaf, berhubung terbatasnya waktu senggang saya siang ini, jadi untuk bagian tengah dan akhir tak bisa saya contohkan sekarang, insya Allah Lunch Time seri selanjutnya, bagian tengah dan akhir cerita akan saya tuntaskan sekaligus share tips selanjutnya.

 

Serial Lunch Time lainnya :

Lunch Tme 2 - Belajar Menulis 2

Dapatkan pemberitahuan artikel & berita-berita terbaru dari PNBB melalui email anda.
© 2020 PNBB - Allright Reserved - Site Credit
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram